Tadabbur Alam, Santri Ma’had Tahfidz Al-Fath Rihlah ke Cipada Farm

mahadtahfidzalfath.com – Tiga truk TNI terparkir di lapangan depan asrama ikhwan pada Senin pagi, 1 Desember 2025. Pemandangan berbeda ini menghadirkan keharuan di hati para santri yang setiap hari menggemakan yel-yel “Brigade Al-Fath”.

Di pondok ini, mereka ditempa untuk menjadi tentara Allah. Dengan Al-Qur’an, mereka bukan hanya menjaga negara. Mereka menjaga bumi, menjalankan peran sebagai khalifah.

Untuk lebih serius menempa para santri, rihlah menjadi agenda tahunan sebagai kesempatan bagi mereka untuk melihat bahwa ayat Allah bukan sekadar tulisan di mushaf. Tiga truk TNI itu akan membawa mereka menempuh dua jam perjalanan menuju Cipada Farm, kebun organik yang terletak di kaki Gunung Burangrang, Bandung Barat.

Berbeda dengan rihlah sebelumnya, kali ini santri dilibatkan dalam kepanitiaan. Didampingi Ustadz Nizal selaku ketua pelaksana, mereka mengkoordinir dari awal hingga akhir kegiatan.

Setibanya di lokasi, lelah perjalanan terbayarkan begitu melihat kebun hijau yang terbentang berpadu dengan cerahnya langit biru yang luas. Keindahan dan keseimbangan yang harus disyukuri mengingat bahwa di sudut lain negeri ini, keseimbangan itu tersapu oleh banjir akibat ulah manusia.

Musibah yang menimpa Aceh, Sumut, dan Sumbar itu disampaikan dalam upacara pembukaan untuk mengajak mereka mengambil pelajaran. Bahwa alam adalah bentangan ayat-ayat Allah dan bencana adalah cara alam menagih hak mereka untuk dibaca dan dijaga.

Juga untuk mengajarkan santri tentang kepekaan. Ketika mereka merasa tidak nyaman dengan tenda yang tidak sepenuhnya melindungi dari sengatan matahari atau guyuran hujan, bagaimana dengan korban bencana yang tidak punya tenda sama sekali sementara rumah mereka terendam bahkan hanyut tak tersisa.

Tapi lihatlah, dengan kesabaran dan keyakinan akan pertolongan dan keadilan Allah, para korban masih bisa tertawa. Maka pantaskah kita mengurung diri dan bermurung hati di tengah keadaan yang aman dan cukup ini?

Para santri keluar tenda dengan jas hujan. Menikmati tiap tetes rahmat-Nya sambil mengikuti permainan dari panitia. Permainan yang tidak hanya menyenangkan tapi juga melatih kepemimpinan, kekompakan, dan kedisiplinan.

Kegiatan rihlah ini tidak sepadat rihlah sebelumya. Para santri punya banyak waktu luang untuk menikmati suasana, bercengkrama, hingga murajaah dan mengulang pelajaran juga agar menghemat waktu persiapan menuju agenda selanjutnya.

Setelah shalat maghrib berjama’ah. Para santri berkumpul untuk sharing bersama Abi Rohmad. Beliau mengingatkan santri bahwa tanggung jawab besar mereka sebagai khalifah harus ditunaikan mulai dari yang kecil seperti menjaga kebersihan dan menanam pohon.

Abi Rohmad berharap, sebagaimana pohon, para santri tumbuh dengan akar keimanan yang kuat, batang ilmu yang kokoh, dan adab yang meneduhkan serta berbuah banyak manfaat sehingga menjadi jariyah bagi kedua orang tua.

Pesan yang kemudian dikuatkan lagi oleh Ustadz Sholeh selepas shalat Isya berjama’ah. Di bawah langit yang dihiasi bulan dan bintang, beliau mengajak santri merenungi ayat-ayat tentang birrul walidain.

Hati dan pikiran mereka terpenuhi dengan ilmu dan hikmah. Waktunya mengisi perut dengan menu spesial yang sudah disiapkan panitia untuk kemudian beristirahat, memulihkan tenaga.

Demi rasa malu pada alam yang dzikirnya tidak mengenal jeda, pukul 01.50 santri bangun dan bersiap untuk shalat tahajjud bersama. Mereka berwudu, mengusir kantuk dan berdamai dengan dinginnya udara. Karena posisi ternyaman bukan terbaring tidur melainkan bersujud di hadapan-Nya. Tahajjud dan shalat subuh sejatinya adalah selimut yang menghangatkan.

Dzikir pagi yang biasanya dilanjutkan dengan membaca Al-Qur’an, kali ini dilanjutkan dengan membaca langit bersama Ustadz Salman. Beliau mengutip perkataan ulama yang mengambil langit sebagai ilustrasi untuk menghindari sifat hasad.

Langit yang luas itu, siapapun bisa memandangnya. Kita tidak akan melarang orang lain menikmati keindahannya. Bahkan kita akan mengumumkan keindahan itu, mengajak teman-teman kita untuk ikut memandangnya.

Begitulah, tidak ada yang hasad ketika seseorang memandang langit tapi ada yang hasad karena melihat sepetak tanah di bumi, padahal dunia seisinya tak sebanding dengan apa yg ada di langit. Dengan demikian, jangan jadikan tujuan akhir permintaan mu kepada hal sempit yang jadi rebutan karena ketika terkabul akan jadi sarang hasad semua orang. Jadikanlah akhirat sebagai tujuan, maka hati kita akan tenang.

Masih banyak pelajaran dari langit yang belum dipetik, semoga bisa dilanjutkan lain waktu karena mereka punya janji untuk berguru pada Bukit Senyum.

Ketika matahari sudah sempurna tampak dan menghangatkan udara, para santri mulai menapaki jalan menanjak yang membelah hutan pinus. Titik yang mereka tuju tidak jauh dan jalurnya landai seolah bukit ini menyambut siapapun dengan ramah sehingga tak seorang pun mendaki tanpa senyum di wajahnya. Begitu masuk, senyum para santri semakin lebar karena bukit ini menyuguhkan hamparan kebun teh dan lanskap Waduk Saguling yang memanjakan mata.

Bukit senyum mengajarkan bahwa ternyata sesuatu yang memuaskan tidak selalu menuntut usaha mati-matian. Kadang dengan ibadah sesederhana senyum, Allah balas dengan bukit-bukit pahala. Lalu bayangkan sebesar apa pahala yang Allah berikan kepada orang-orang baik yang telah mengukir senyum di wajah para penghafal Qur’an ini.

Jazakumullahu khairan, para Muhsinin dan seluruh pengurus Al-Fath yang semoga namanya terkenal di kalangan malaikat. Perjalanan rihlah ini akan menjadi pengalaman yang terus mereka kenang dan ceritakan. Di dunia, dan semoga di surga.